Cara Menenangkan Anak Tantrum Tanpa Bentak, yang Sering Sulit Dilakukan Orang Tua
Ayu
Editor & Kontributor
Tantrum sering datang di waktu yang paling tidak terduga. Kadang saat sedang belanja, sedang makan di luar, atau justru ketika orang tua sendiri sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas.
Ada anak yang menangis keras, ada yang melempar barang, ada juga yang sampai berguling di lantai karena keinginannya tidak dituruti.
Di situ biasanya orang tua mulai panik. Malu dilihat orang, bingung harus bagaimana, dan kadang emosi ikut naik karena anak semakin sulit ditenangkan.Tantrum Sebenarnya Bukan Sekadar Anak Nakal
Banyak orang langsung menganggap tantrum sebagai tanda anak manja atau terlalu dimanja. Padahal pada usia balita, tantrum sering terjadi karena anak belum mampu mengelola emosinya sendiri.
Mereka sebenarnya sedang merasa:
- marah
- frustrasi
- kelelahan
- lapar
- bingung mengungkapkan keinginan
Karena kemampuan bicara dan mengontrol emosi belum matang, akhirnya semua keluar lewat tangisan atau ledakan emosi.
Orang Tua yang Panik Biasanya Membuat Situasi Makin Panas
Ini yang sering terjadi tanpa sadar.
Saat anak mulai menangis keras, orang tua ikut terpancing emosi. Suara makin tinggi, anak makin tidak mau mendengar, dan akhirnya situasi berubah jadi lebih besar.
Padahal pada momen tantrum, anak sebenarnya lebih membutuhkan rasa aman dibanding ceramah panjang.
Coba Turunkan Nada Suara
Salah satu hal yang cukup membantu justru terdengar sederhana: menurunkan nada suara.
Anak yang sedang tantrum biasanya sulit menerima penjelasan panjang. Tapi mereka tetap bisa merasakan suasana dari cara orang tua berbicara.
Kadang suara yang lebih pelan justru membuat anak perlahan ikut menurunkan emosinya.
Jangan Langsung Memaksa Anak Diam
Banyak orang tua refleks berkata:
- “Sudah, jangan nangis!”
- “Diam sekarang!”
- “Kalau nangis terus ditinggal ya!”
Padahal pada beberapa anak, kalimat seperti itu justru membuat mereka merasa tidak dipahami.
Sesekali mencoba mengakui perasaan anak bisa membantu mereka lebih cepat tenang.
Misalnya dengan kalimat sederhana seperti:
- “Kamu lagi marah ya?”
- “Kamu kecewa karena tidak boleh beli itu?”
Walaupun terlihat sepele, anak sering lebih mudah tenang ketika emosinya terasa dimengerti.
Peluk Jika Anak Mau
Ada anak yang lebih cepat tenang ketika dipeluk. Tapi ada juga yang justru semakin marah kalau langsung disentuh saat emosinya sedang tinggi.
Karena itu orang tua biasanya perlu melihat respons anak masing-masing.
Kadang cukup duduk di dekatnya sambil menunggu emosinya turun perlahan.
Tantrum Sering Dipicu Hal Sederhana
Balita mudah tantrum ketika kondisi tubuhnya tidak nyaman.
Misalnya:
- kurang tidur
- terlalu lelah
- lapar
- terlalu ramai
- terlalu lama bermain gadget
Karena itu kadang yang terlihat seperti “anak susah diatur” sebenarnya tubuh dan emosinya sedang kewalahan.
Orang Tua Juga Perlu Belajar Mengatur Emosi
Menghadapi tantrum memang melelahkan. Apalagi kalau terjadi berulang dalam sehari.
Banyak orang tua sebenarnya sudah berusaha sabar, tapi tetap ada momen ketika tenaga dan emosi terasa habis.
Karena itu penting juga untuk memahami bahwa menghadapi tantrum adalah proses belajar, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk orang tua.
Pelan-Pelan Anak Akan Belajar Mengenali Emosinya
Seiring bertambah usia, biasanya kemampuan anak mengontrol emosi mulai berkembang sedikit demi sedikit.
Yang sering membantu bukan hukuman keras, tetapi suasana yang membuat anak merasa aman sekaligus tetap memiliki batas yang jelas.
Karena pada akhirnya, tantrum adalah salah satu fase tumbuh kembang yang cukup sering terjadi pada banyak balita.